MAKALAH
Metodologi Pengembangan Sains Pada AUD

Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah
metodologi pengembangan sains
yang dibimbing oleh Dr. Hj. Nina Kurnia, M.pd
Disusun
oleh :
Helga
Yunia (A1I013067)
Nurhasni
(A1I013043)
Rezie
Zilvia Uteri (A1I013029)
Rini
Oktaviani (A1I013075)
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU ANAK USIA DINI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS BENGKULU
2015
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
Anak usia dini merupakan anak yang aktif dan sangat imajinatif serta memiliki keingintahuan yang tinggi. Pada saat usia dini ini anak memiliki tingkat kecerdasan yang perkembangannya sangat pesat. Dengan metode eksperimen anak memiliki kekreativitasan dalam memahami pembelajaran secara langsung.
Anak usia dini merupakan anak yang aktif dan sangat imajinatif serta memiliki keingintahuan yang tinggi. Pada saat usia dini ini anak memiliki tingkat kecerdasan yang perkembangannya sangat pesat. Dengan metode eksperimen anak memiliki kekreativitasan dalam memahami pembelajaran secara langsung.
Anak
usia dini disebut juga dengan masa golden age atau masa umur emas. Pada masa
inilah kesempatan yang baik untuk mengenalkan konsep pembelajaran sains yang
sederhana pada anak. Contohnya saja pada pembahasan kami kali ini mengenai daya
serap air terhadap benda.
Pengembangan pembelajaran sains pada
anak usia dini, memiliki peranan yang sangat penting dalam membantu meletakkan
dasar kemampuan dan pembentukkan sumber daya manusia yang diharapkan. Sadar
pentingnya ketrampilan proses sains pada anak akan semakin tinggi apabila
menyadari bahwa kita hidup dalam dunia yang dinamis, berkembang dan berubah
secara terus-menerus bahkan makin menuju masa depan.
Hakekat sains perlu dikaji, dipelajari dan ditekuni,
anak-anak sebagai generasi yang dipersiapkan untuk mengisi masa depan yang
diduga akan semakin rumit, berat dan banyak problemanya perlu dibekali
ketrampilan sains yang memadai, tepat, bermakna dan fungsional. Secara umum
ketrampilan sains di taman kanak-kanak bertujuan agar anak mampu secara aktif
mencari informasi mengenai apa yang ada di sekelilingnya. Selain itu melalui
eksplorasi dibidang sains anak mencoba memahami dunianya melalui pengamatan,
penyelidikan dan percobaan untuk memenuhi rasa keingintahuannya. Dalam
pembelajaran sains bagi anak bermanfaat untuk menciptakan suasana yang
menyenangkan dan akan menimbulkan imajinasi pada anak yang pada akhirnya dapat
menambah pengetahuan anak secara alamiah. Apalagi dengan tantangan kehidupan
masa depan yang sangat menantang, menuntut semakin strategis bahwa pembekalan
sains bagi anak usia dini menjadi mutlak, sehingga sains pada diri anak muncul
sebagai suatu cara untuk mencari kebenaran dalam kehidupannya kelak.
1.2
Rumusan Masalah
1. Apa Pengertian Sains?
1. Apa Pengertian Sains?
2.
Apakah Tujuan Pembelajaran Sains Bagi Anak?
3.
Bagaimana Nilai Sains Bagi perkembangan
anak?
4.
Bagaimana Cara Anak Mempelajari Sains?
5.
Bagaimana Pengembangan Program Pembelajaran Sains?
1.3
Tujuan
tujuan dari makalah ini adalah :
1 Untuk mengetahui pengertian sains
tujuan dari makalah ini adalah :
1 Untuk mengetahui pengertian sains
2. Untuk
mengetahui tujuan pembelajaran sains bagi anak
3. Untuk
mengetahui nilai sains bagi perkembangan
anak
4. Untuk
mengetahui anak mempelajari sains
5. Untuk
mengetahui pengembangan program pembelajaran sains
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah Yang Maha kuasa karena
dengan rahmat, karunia, serta taufik dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan
makalah tentang Metodologi Pengembangan Sains ini dengan baik meskipun banyak
kekurangan didalamnya. Dan juga kami berterima kasih pada ibu nina kurnia selaku
Dosen mata kuliah metodologi pengembangan sains yang telah memberikan tugas ini kepada kami.
Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan serta pengetahuan kita mengenai metodologi pengembangan sains, dan juga bagaimana membuat pembelajaran sains yang menyenangkan bagi anak. Kami juga menyadari sepenuhnya bahwa di dalam makalah ini terdapat kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, kami berharap adanya kritik, saran dan usulan demi perbaikan makalah yang telah kami buat di masa yang akan datang, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa saran yang membangun.
Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang membacanya. Sekiranya makalah yang telah disusun ini dapat berguna bagi kami sendiri maupun orang yang membacanya. Sebelumnya kami mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata yang kurang berkenan dan kami memohon kritik dan saran yang membangun demi perbaikan makalah ini di waktu yang akan datang.
Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan serta pengetahuan kita mengenai metodologi pengembangan sains, dan juga bagaimana membuat pembelajaran sains yang menyenangkan bagi anak. Kami juga menyadari sepenuhnya bahwa di dalam makalah ini terdapat kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, kami berharap adanya kritik, saran dan usulan demi perbaikan makalah yang telah kami buat di masa yang akan datang, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa saran yang membangun.
Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang membacanya. Sekiranya makalah yang telah disusun ini dapat berguna bagi kami sendiri maupun orang yang membacanya. Sebelumnya kami mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata yang kurang berkenan dan kami memohon kritik dan saran yang membangun demi perbaikan makalah ini di waktu yang akan datang.
Bengkulu, 20 Desember 2015
Penyusun
BAB II
PEMBAHASAN
2.1
Pengertian Sains
Dari
sudut bahasa, sains atau science (bahasa Inggris) berasal dari bahasa
latin, yaitu dari kata scientia artinya pengetahuan. Para ahli
memandang batasan etimologis tentang sains yaitu dari bahasa Jerman, hal itu
merujuk pada kata Wissenschaft, yang memiliki pengertian pengetahuan yang
tersusun atau terorganisasikan secara sistematis.
Amien (1987), mendefinisikan sains sebagai bidang ilmu alamiah, dengan ruang lingkup zat dan energi, baik yang terdapat pada makhluk hidup maupun tak hidup, lebih banyak mendiskusikan tentang alam (natural sciences) seperti fisika, kimia dan biologi. James Conant (Holton dan Roller: 1958), sains sebagai suatu deretan konsep serta skema konseptual yang berhubungan satu sama lain, yang tumbuh sebagai hasil serangkaian percobaan dan pengamatan serta dapat diamati dan diujicobakan lebih lanjut. Menurut Conant (Abu Ahmadi, 1991), sains sebagai ilmu teoritis yang didasarkan atas pengamatan, percobaan-percobaan terhadap gejala alam berupa makrokosmos (alam semesta) dan mikrokosmos (isi alam semesta yang lebih terbatas, khususnya tentang manusia dan sifat-sifatnya). Sedangkan menurut Fisher (1975), sains sebagai suatu kumpulan pengetahuan yang diperoleh dengan menggunakan metode-metode yang berdasarkan pada pengamatan dengan penuh penelitian.
Secara analitis, beberapa ahli mencoba memberikan batasan sains dengan membagi sains berdasarkan dimensi pengkajiannya. menurut Sumaji (1988), bahwa secara sempit sains adalah ilmu pengetahuan alam (IPA) terdiri atas physcal science (ilmu astronomi, kimia, geogologi, menerologi, fisika) dan life science (biologi, zoologi, dan fisiologi)
Ernest Hagel (Indrawati, 1995), memandang sains dari 3 aspek:
Amien (1987), mendefinisikan sains sebagai bidang ilmu alamiah, dengan ruang lingkup zat dan energi, baik yang terdapat pada makhluk hidup maupun tak hidup, lebih banyak mendiskusikan tentang alam (natural sciences) seperti fisika, kimia dan biologi. James Conant (Holton dan Roller: 1958), sains sebagai suatu deretan konsep serta skema konseptual yang berhubungan satu sama lain, yang tumbuh sebagai hasil serangkaian percobaan dan pengamatan serta dapat diamati dan diujicobakan lebih lanjut. Menurut Conant (Abu Ahmadi, 1991), sains sebagai ilmu teoritis yang didasarkan atas pengamatan, percobaan-percobaan terhadap gejala alam berupa makrokosmos (alam semesta) dan mikrokosmos (isi alam semesta yang lebih terbatas, khususnya tentang manusia dan sifat-sifatnya). Sedangkan menurut Fisher (1975), sains sebagai suatu kumpulan pengetahuan yang diperoleh dengan menggunakan metode-metode yang berdasarkan pada pengamatan dengan penuh penelitian.
Secara analitis, beberapa ahli mencoba memberikan batasan sains dengan membagi sains berdasarkan dimensi pengkajiannya. menurut Sumaji (1988), bahwa secara sempit sains adalah ilmu pengetahuan alam (IPA) terdiri atas physcal science (ilmu astronomi, kimia, geogologi, menerologi, fisika) dan life science (biologi, zoologi, dan fisiologi)
Ernest Hagel (Indrawati, 1995), memandang sains dari 3 aspek:
·
Aspek
tujuan sains adalah sebagai alat untuk menguasai alam dan untuk memberikan
sumbangan kesejahtaraan manusia.
·
Sains
sebagai suatu pengetahuan yang sistematis dan tangguh dalam arti merupakan
suatu hasil atau kesimpulan yang didapat dari berbagai peristiwa.
·
Sains
sebagai metode, yaitu merupakan suatu perangkat aturan untuk memecahkan
masalah, untuk mendapat atau mengetahui penyebab dari suatu kejadian dan untuk
mendapat hukum-hukum atau teori-teori dari obyek yang diamati.
·
Beberapa
gambaran tentang batasan dari sains:
·
Sebagai
sautu proses adalah metode untuk memperoleh pengetahuan
·
Gambaran
sains berhubungan erat dengan kegiatan penelusuran gejala dan faktor-faktor
alam yang dilakukan melalui kegiatan laboratorium. Sains dipandang sebagai
suatu disiplin (keilmuan) yang ketat berdasarkan pada kegiatan, pengamatan,
hipotesis (dugaan).
·
Sains
sebagai suatu produk terdiri atas berbagai fakta, konsep prinsip, hukum dan
teori. Fakta adalah sesuatu yang telah atau sedang terjadi yang dapat berupa
keadaan, suatu ide yang merupakan generalisasi dari berbagai
peristiwa atau pengalaman khusus, yang dinyatakan dalam istilah atau simbol
tertentu yang dapat diterima.
·
Sains
sebagai sautu sikap atau dikenal dengan sikap keilmuwan, yaitu berbagai
keyakinan, opini dan nilai-nilai yang harus dipertahankan oleh seorang ilmuwan
khususnya. Ketika mencari atau mengembangkan pengetahuan baru. Di antara sikap
itu adalah rasa tanggung jawab yang tinggi, rasa ingin tahu, disiplin, tekun,
jujur dan terbuka terhadap pendapat orang lain.
Jadi Sains merupakan dasar dari
berbagai ilmu pengetahuan tentang alam raya dan isinya. Sains juga merupakan
ilmu alamiah dari pengertian sains oleh beberapa ahli di atas bahwa ilmu sains
secara formal yaitu menyelidiki, bereksperimen, mengamati dan melakukan percobaan-percobaan
terhadap gejala alam. Jadi, para ilmuwanlah yang selalu melakukan uji coba atau
eksperimen untuk menghasilkan jawaban dari suatu yang diujinya. Lain lagi
pasalnya untuk anak usia dini, dimana sains bukan mencari suatu kebenaran tapi
memberikan pengembangan kemampuan berfikir anak. Dan menanamkan kepada anak
bahwa belajar sains itu adalah kegiatan yang menyenangkan dan sangat bermanfaat
bagi kehidupan mereka. Dengan melakukan suatu eksperimen bersama anak, anak
mengenal konsep sains tidak hanya sebatas teori tetapi sekaligus mengajak anak
berpikir dengan mengutarakan pertanyaan apa, mengapa dan bagaimana sehingga
anak mendapat jawabannya sendiri melalui kegiatan eksperimen yang mereka
lakukan. Guru dan anak juga harus memiliki keakraban yang sangat dekat.
2.2 Tujuan
Pembelajaran Sains Bagi Anak
Pentingnya tujuan dalam pembelajaran
sains memiliki setiap bidang pengembangan pembelajaran dalam
pendidikan anak usia dini, suatu tujuan yang dianggap terstandar dan memilih
karakteristik yang ideal, apabila tujuan yang dirumuskan memilih tingkat
ketepatan (validitas), kebermaknaan (meaning fulness),fungsional dan relevansi
yang tinggi dengan kebutuhan serta karakteristik sasaran. Sains sebagai salah
satu alat pengungkap keberadaan dan rahasia alam raya dan isinya atau sebagai
salah satu sarana mencapai tujuan hidup manusia sangat penting untuk dipahami
dan dikuasai.
Sains
merupakan dasar dari berbagai ilmu pengetahuan tentang alam raya dan isinya.
Sains juga merupakan ilmu alamiah dari pengertian sains yang dikemukakan oleh
beberapa ahli di atas bahwa ilmu sains secara formal yaitu menyelidiki,
bereksperimen, mengamati dan melakukan percobaan-percobaan terhadap gejala
alam. Jadi, para ilmuwanlah yang selalu melakukan uji coba atau eksperimen
untuk menghasilkan jawaban dari suatu yang diujinya. Lain lagi pasalnya untuk
anak usia dini, dimana sains bukan mencari suatu kebenaran tapi memberikan
pengembangan kemampuan berfikir anak. Dan menanamkan kepada anak bahwa belajar
sains itu adalah kegiatan yang menyenangkan dan sangat bermanfaat bagi
kehidupan mereka. Dengan melakukan suatu eksperimen bersama anak, anak mengenal
konsep sains tidak hanya sebatas teori tetapi sekaligus mengajak anak berpikir
dengan mengutarakan pertanyaan apa, mengapa dan bagaimana sehingga anak
mendapat jawabannya sendiri melalui kegiatan eksperimen yang mereka lakukan.
Guru dan anak juga harus memiliki keakraban yang sangat dekat.
2.3 Nilai
Sains Bagi perkembangan anak
1. Nilai
sains bagi perkembangan kemampuan kognitif anak
Abruscato (1982) menilai bahwa
kegiatan sekolah yang seringkali dihabiskan untuk mengasah daya pikir dan
menyerap pengetahuan semata-mata, itu adalah keliru. Mengacu pada teori
perkembangan kognitif, yang terpenting anak menyerap sebanyak-banyaknya pengetahuan,
tetapi bagaimana anak dapat mengingat dan mengendapkan yang diperolehnya, serta
bagaimana ia dapat menggunakan kosnep dan prinsip yang dipelajarinya itu dalam
lingkup kehidupannya atau belajar. Jadi nilai yang sesungguhnya dari sifat
pengembngan kognitif harus mengarah pada dua dimensi, yaitu dimensi isi dan
dimensi proses. Dalam mengarahkan anak untuk mengusai isi pengetahuan,
dilakukan melalui proses atau aktivitas yang bermakna. Jika anak diharapkan
menguasai konsep-konsep terkait dengan sains baik berapa fakta konsep maupun
teori. Fasilitasilah mereka dalam menguasainya melalui kegiatan yang bisa
mencakup dimensi isi maupun proses tersebut, misal melalui observasi, membaca,
diskusi, eksperimen atau media yang relevan.
2. Nilai
sains bagi perkembangan afektif anak
Setiap anak sejak dini perlu
diberikan dan dilibatkan pada suasana atau situasi yang dapat memberikan afeksi
yang membekas. Pemain afeksi akan melekat dan menjadi suatu karakter yang
mempribadi atau mengindividualisasi pada jati diri anak. Jika pengembangannya
disesuaikan dengan tuntutan perilaku yang terjadi secara nyata dalam kehidupan
anak. Sehingga nilai afeksi yang dikembangkan merupakan suatu pola perilaku
yang benar-benar diwujudkan dalam perbuatan.
Tugas guru dalam pembelajaran sains
adalah menyediakan lingkungan belajar yang menyenangkan, bermakna, menyentuh
anak sehingga dapat menumbuhkembangkan afeksi anak secara positif.
3. Nilai
sains bagi perkembangan psikomotorik anak
Mengarahkan pada tuntutan anak
memiliki kesanggupan untuk menggerakkan anggota tubuh dan bagian-bagiannya.
Pengembangan sains dengan sifat-sifat yang melekatnya dapat membantu
meningkatkan keterampilan psikomotorik anak. Motorik kasar anak dapat
berkembang melalui aktivitas saing. Misal dengan cara membentuk bangunan dari
pasir, tanah, bercocok tanam bunga, dan lain-lain. Sedangkan motorik halus
dilakukan melalui aktivitas menggaris dengan pensil dan penggaris, mengukur,
memilah benda-benda (kasar, halus dan lain-lain) menggunting dan sebagainya.
Jadi, pengembangan motorik akan banyak diperoleh mellui kegiatan sains yang
bernilai kognitif maupun afektif, artinya aktivitas motorik akan berkontribusi
positif terhadap pembentukan kognitif dan afektif anak dalam pengenalan dan
penguasaan sains.
4. Nilai
sains bagi perkembangan keterampilan berfikir dan kreativitas anak
Melalui pengembangan sains pada
anak akan mengundang dan menumbuhkan rasa ingin tahu yang amat tinggi. Setting
dan lingkungan belajar sains yang disediakan akan merangsang anak untuk
memunculkan pertanyaan-pertanyaan menakjubkan. Maka itulah wujud dari berpikir
dan belajar kreatif yang nyata. Nilai sains bagi perkembangan dan pertumbuhan
anak yaitu daya pikir dan imajinasi anak dalam mengajukan suatu pertanyaan atau
dengan mengajak anak untuk mengamati suatu pertumbuhan hidup tanaman maka
keterampilan berfikir kritis anak akan berkembang.
5. Nilai
sains bagi perkembangan kemampuan aktualisasi dan kesiapan anak dalam mengisi
kehidupannya
Jika praktek-praktek pengembangan
pembelajaran sains diberikan sedemikian rupa, maka kematangan pada aspek-aspek
pengembangan dalam diri anak akan semakin baik artinya jika akumulasi dari
dampak pembelajaran sains itu terus berkembang, akan berkontribusi positif
terhadap peningkatan kemampuan anak untuk mengaktualisasikan dirinya dalam
kehidupan yang luas.
6.
Nilai sains bagi perkembangan religius anak
Sumaji (1980) mengakui semakin
luas dan dalam seseorang mempelajari sains, ia akan merasa semakin kecil
sebagai makhluk bila dibanding Tuhan. Itulah nilai lainnya dari
sains, ternyata pemahaman akan sains berkorelasi dengan peningkatan kesadaran
nilai religius seseorang. Issac Newton misalnya, fisikawan terkemuka
mengibaratkan dirinya sebagai anak kecil yang sedang bermain kerang dipantai.
Sedangkan lautan yang membentang luas ibarat sains.
Like Wilardja (1997) menyatakan
dengan proses pengembangan pembelajaran sains yang tepat pada anak, maka anak
akan dibiasakan menjadi sosok yang jujur dan tidak mudah berprasangka menjadi
pribadi yang gigih dan tekun dalam menghadapi kesulitan, bahkan dapat
menumbuhkan nilai religius, yaitu rasa bersyukur dan memuliakannya.
Dengan
demikian, dari pembelajaran sains banyak yang dikembangkan kepada anak, yaitu
kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotorik serta berfikir kritis dan kreatifitas,
aktualitas serta nilai religius anak. Seorang guru harus bisa memberikan
kegiatan sains yang menyenangkan, dari kegiatan tersebut cara anak berfikir dan
berimajinasi serta rasa ingin tahu anak akan lebih terangsang. Dan rasa ingin
tahu apa, mengapa, akan terjawab dari kegiatan tersebut serta pengembangan
afektif dan psikomotorik anak juga berkembang sejalan dengan perkembangan
kognitif.
Kognitif
itu pengembangan daya pikir anak, afektif itu pengembangan perilaku anak dan
psikomotorik itu pengembangan motorik kasar dan motorik halus.
Contohnya membentuk bangun dari pasir (motorik kasar), membentuk dengan
playdought/ platisin (motorik halus).
Dengan
mengajak anak jalan-jalan ke luar dari lingkungan sekolah atau pergi ke pantai.
Jelaskan pada anak-anak bahwa itu ciptaan Tuhan, dan manusia juga ciptaan
Tuhan, agar anak mengetahui siapa sang pencipta dan anak juga memiliki rasa
sukur dan rendah diri. Begitulah nilai religius yang dikembangkan pada anak dan
cara anak berfikir kritis atas penciptaan alam raya ini.
3.4 Cara
Anak Mempelajari Sains
1. Siapakah
Anak Itu
Pertanyaan
tersebut, jika diajukan secara lebih spesifik, maka pandangan orang terutama
para ahli tentang anak. Sebagaimana cenderung berubah dari waktu ke waktu serta
berbeda satu sama lain.
Tinjauan
para ahli dapat digambarkan sebagai berikut:
Tinjauan anak berdasarkan dimensi
usia kronologis
·
Hurlock
(1999) mengkategorikan, bahwa kanak-kanak dini adalah usia prasekolah atau
kelompok usia antara 2 hingga 6 tahun.
·
Kihajar
Dewantara memandang bahwa masa kanak-kanak pada rentang usia 1 sampai 7 tahun.
·
Solehuddin
(2000) early childhood adalah anak berkisar antara usia 0 sampai
dengan 8 tahun.
·
Fawzia
Aswin Hadis (1994) masa usia prasekolah atau usia taman kanak-kanak dengan
rentang usia antara 3 – 6 tahun.
Jadi
dari sisi usia kronologis, anak usia dini adalah anak dengan usia di bawah 8
tahun.
Tinjauan
anak berdasarkan sudut pandang filosofis
·
Menurut
Erikson, anak dalam makhluk yang aktif dan penjelajah yang adaptif selalu
berupaya untuk mengontrol lingkungannya.
·
Jean
Piaget, anak adalah seorang pengkonstruksi yaitu seorang penjelajah yang aktif,
selalu ingin tahu, selalu menjawab tantangan lingkungan sesuai dengan
interpretasi (penafsirannya) tentang ciri-ciri yang esensial yang ditampilkan
oleh lingkungan.
Tinjauan
anak berdasarkan karakteristik perkembangannya:
- Hurlock
(1999) bahwa karakteristik perkembangan terdiri dari:
·
Perkembangan
fisik, dengan lingkupnya meliputi ukuran dan proporsi tubuh, pertumbuhan dan
perkembangan tulang, otot, dan lemak, gigi dan perkembangan susunan syaraf.
·
Perkembangan
motorik halus dan motorik kasar
·
Perkembangan
bicara yaitu bagaimana anak berbicara
·
Perkembangan
emosi yaitu emosi yang muncul pada anak yaitu takut, canggung, marah, cemas.
·
Perkembangan
sosial yaitu penyesuaian sosial anak
·
Perkembangan
bermain yaitu bermain aktif, bebas
·
Perkembangan
kreatifitas yaitu ekspresi kreatifitas anak
·
Perkembangan
pengertian dan konsep anak
·
Perkembangan
moral dan disiplin
·
Perkembangan
peran seks mengenai penentuan peran seks pada anak.
·
Perkembangan
kepribadian
2. Hakekat
Belajar
a.
Konsep belajar
Secara
tradisional belajar diartikan sebagai penambahan dan pengumpulan pengetahuan.
Dimensi
perubahan yang terjadi dari belajar.
1)
Kepribadian
yaitu dengan memiliki pola respon atau tingkah laku baru.
2)
Perilaku
aktual maupun potensial yaitu kemampuan melakukan kegiatan nyata maupun yang
bersifat tidak nyata.
3)
Kecakapan
atau keterampilan dalam bertindak yaitu kemampuan yang terkait dengan
penggunaan motorik (kasar maupun halus)
4)
Sikap
dan kebiasaan yaitu penerapan nilai-nilai kehidupan dalam perilaku sehari-hari.
5)
Pengetahuan
dan pemahaman yaitu berupa penguasaan konsep prinsip, maupun teori.
b. Bentuk-bentuk
belajar
1. Mendengarkan
Yaitu bentuk belajar atau
perubahan tingkah laku yang didasarkan atas tindakan mendengarkan.
2.
Memandang/melihat
Bentuk belajar memandang memiliki
dimensi terbuka pertama arah belajar lebih ditekankan pada fungsi indera
sebagai alat memperoleh pengalaman belajar melalui visual.
3.
Membau/
mencium
Bentuk belajar melalui membau
atau mencium. Bentuk belajar ini juga akan berdampak terlatih indera pembau
menjadi sensitif. Terhadap setiap rangsangan yang dihinggap dan menghanpirinya.
4.
Meraba/
mencicipi
Dengan meraba anak akan
memperoleh pengalaman langsung dan sangat bermakna.
5.
Menghapal
Mengingat begitu banyak informasi
dengan menghafal
6.
Membaca
Menyerap informasi-informasi
pengetahuan yang telah dikemas dan disajikan secara teratur dalam bentuk
tulisan secara seksama dan rutin.
3. Anak
belajar dan sains
Setiap
manusia lahir dengan rasa keingintahuan besar tentang segala sesuatu yang ada
disekitarnya. Rasa ingin tahu tersebut pada benda-benda pada suatu peristiwa
atau kejadian tertentu.
1.
Setiap
anak memiliki bakat dan potensi yang menakjubkan
2.
Anak
adalah makhluk individu, anak memiliki karakateristik dan kesiapan untuk
dikembangkan dan menarik baginya.
3.
Anak
adalah pelajar dapat membangun belajar yang bermakna
4.
Anak
adalah pelaku dan perencanaan
5.
Anak
adalah pemikir, anak dilengkapi kemampuan berfikir.
Dengan demikian, Anak usia dini
yaitu anak berumur dari 0 – 8 tahun. Anak yang berumur 7 dan 8
tahun itu berada pada sekolah SD awal. Anak memiliki karakteristik
tertentu menurut usia masing-masing yaitu dengan menggunakan alat indera ia
bisa melihat dan alat indera lainnya maka anak bisa mengembangkan yang ada pada
dirinya masing-masing baik bahasa, kognitif, moral. Kepribadian dan guru
merupakan model utama dalam pembentukan perkembangan anak disekolah.
2.5
Pengembangan
Program Pembelajaran Sains
1.
Ruang
Lingkup Program Pengembangan Pembelajaran Sains
Ruang lingkup program
pembelajaran sains terdiri dati isi bahan kajian, bidang pengembangan yang
menjdi program sains terpadu atau terintegrasi.
Isi bahan kajian terkait dengan
jaga raya (ilmu tentang bumi), tumbuh-tumbuhan, binatang dan hubungan antara
aspek-aspek kehidupan dengan lingkungannya. Arah pengembangan program sains
sebagai suatu proses ditujukan pada perencanaan dan aktivitas sains yang dapat
membantu anak dalam menguasai keterampilan yang terkait dengan cara pengenalan
dan perolehan sains yang benar.
2.
Model-model
Pengembangan Pembelajaran Sains Untuk AUD
Beberapa model pengembangan
program pembelajaran sain yang dijadikan pedoman untuk anak usia dini.
a.
Pendekatan
yang bersifat situasional
Maksudnya
adalah pembahasan tentang sains yang dielaborasi (diulas) secara luas dan
mendalam jika dalam pembelajaran muncul fenomena yang terkait dengan tuntutan
pembahasan konsep dan pengalaman sains pada sasaran belajar.
b.
Pendekatan
yang bersifat terpisah atau tersendiri
Maksudnya
program pengembangan pembelajaran sains dirancang secara khusus dan tersendiri
sesuai dengan karakteristik pembelajaran sain.
c.
Pendekatan
yang bersifat merger atau terintegrasi dengan disiplin lain atau bidang
pengembangan lain
3. Pengembangan
Unit dan Perencanan Pembelajaran Sains Untuk AUD
a. Pengembangan
unit pembelajaran sains
Unit sains adalah sebagai skema
konseptual yang berhubungan dengan ide, keterampilan dan aktivitas yang
disatukan melalui topik atau tema sederhana, misalnya bumi dan permukaannya
Dixon (1991) menyarankan cara
memilih topik atau tema atau unit yang tepat untuk integratif kurikulum dalam
pengembngan pembelajaran sains yaitu:
1.
Berdasarkan
minat anak
2.
Berdasarkan
minat guru
3.
Berdasarkan
kebutuhan anak
4.
Sesuai
dengan situasi tahun itu, cuaca dan kegiatan-kegiatan khusus
5.
Kurikulum
sekolah dan harapan masyarakat
6.
Ketersediaan
sumber (buku, film, tap, dll)
b. Pengembangan
perencanaan pembelajaran sains
Perencanaan adalah aktivitas yang
menggambarkan dimuka hal-hal yang harus dikerjakan dan cara mengerjakannya
dalam mencapai tujuan yang telah ditentukan.
Untuk
memperoleh suatu eprencanaan pembelajaran sains yang baik harus mengikuti
langkah-langkah mengembangkan yang memiliki dua tahapan:
1.
Pra
perencanaan yaitu tahapan yang ditempuh oleh seseorang perencana sebelum
merumuskan perencanaan sesungguhnya
2.
Pengembangan
perencanaan yaitu tahap melakukan kegiatan nyata dalam pembuatan perencanaan
Jadi
Ruang lingkup pembelajaran sains terdiri dari isi bahan kajian, dan bidang
pengembangan, dimana bahan kajian tidak luput dari tumbuhan, alami dan
lingkungan dan pengembangannya yaitu aspek-aspek yang harus dikembangkan kepada
anak dengan mengamati, meramal, memprediksi dan lain-lainnya.
Dalam
kegiatan sains tidak lepas dari minat anak, kebutuhan anak yang terencana
dengan baik agar hasil sesuai dengan harapan dan tujuan yang dicapai.
4. Strategi
dan Pendekatan Pembelajaran Sains Untuk AUD
Ciri-ciri dasar pendekatan dan
strategi adalah mendukung tujuan yang diharapkan, kemampuan menjadi alat
elaborasi materi yang tinggi, serta adaptif dengan berbagai karakteristik dan
tipe anak sebagai sasaran pengembangan dan pembelajaran.
Pendekatan yaitu pendekatan yang
berorientasi pada guru (teacher centered)Iyakni otoritas dan dominasi
aktivitas, interaksi dan komunikasi dalam pembelajaran cenderung dikuasai oleh
guru, dan berorientasi pada anak (student centered) adalah berdimensi
kepada siswa atau anak.
Alasan yang mendasari perlu
pengembangan pembelajaran sains pada anak dengan menggunakan keterampilan
proses yang dikemukakan oleh Conny Semiawan (1992) diantaranya:
a.
Perkembangan
ilmu pengetahuan semakin cepat
b.
Kesulitan
anak dalam memahami konsep yang rumit bila tidak diberikan contoh yang konkrit
c.
Sifat
penemuan relatif hingga memberikan kesempatan kepada anak untuk berfikir kritis
dalam bertindak.
d.
Adanya
keterkaitan antara pengembangan konsep dan pengembangan sikap dan nilai
Salah satu keterampilan atau
kemampuan proses yang telah dimodifikasikan oleh konferensi para ahli sains
pada tahun 1971 diantaranya:
a.
Keterampilan
mengamati
b.
Keterampilan
mengajukan pertanyaan
c.
Keterampilan
berkomunikasi
d.
Keterampilan
menghitung
5. Organisasi
Kelas Untuk Pembelajaran Sains
Menurut Holton (1992) dalam
pengembangan pembelajaran Sains khususnya yang menggunakan strategi berbasis
discovery inquiry adalah:
a. Distribusi
material pembelajaran
Guru harus memahami karakteristik
dari setiap material pembelajaran yang digunakan, baik dari sisi kualitas,
kunatitas maupun daya jangkauannya terhadap sasara belajar.
Dengan memperhatikan distribusi
material, hal yang dapat dihindari diantaranya:
1) Kebiasaan
anak bergerombolan pada obyek sains tertentu saja sehingga meninggalkan obyek
sains lainnya yang seharusnya mereka observasi dan pelajari dapat ditekan
seminimal mungkin.
2) Kebiasaan
berebut material pembelajaran yang sering dilakukan anak-anak.
b. Penyediaan
area atau arena bekerja anak
Guru harus memadai,
ketidaksediaan arena kerja sains akan mengganggu dan menghalangi dinamika anak
dalam perolehan pengalaman belajar sains yang diikutinya
6. Penilaian
dalam Pembelajaran Sains AUD
Pengembangan penilaian
pembelajaran sains dan penentuan tingkat keberhasilan pembelajaran sains.
Sehingga diketahui upaya-upaya selanjut. Baik tindakan perbaikan, pengayaan
maupun pengemabngan lainnya.
Kegiatan evaluasi merupakan suatu
kesempatan untuk merefleksikan pengalaman anak serta sebagai alat untuk
mengetahui kemajuan hasil belajar anak yang dicapai oleh anak.
Terdapat
beberapa jenis dan cara evaluasi pembelajaran sains pada anak usia dini,
diantaranya melalui:
a. Observasi
adalah pengumpulan data penilaian yang berdasarkan pengamatan terhadap sikap dan perilaku anak
adalah pengumpulan data penilaian yang berdasarkan pengamatan terhadap sikap dan perilaku anak
b. Catatan
anekdot
adalah catatan tentang sikap dan
perilaku anaka secara khusus (peristiwa terjadi secara isi dental atau
tiba-tiba)
c. Penugasan
merupakan cara penilaian berupa pemberian tugas yang harus dikerjakan anak didik dalam waktu tertentu baik secara perorangan maupun kelompok.
merupakan cara penilaian berupa pemberian tugas yang harus dikerjakan anak didik dalam waktu tertentu baik secara perorangan maupun kelompok.
7. Kriteria
Kualitas Guru Untuk Pembelajaran Sains AUD
1.
Guru
sebagai perencana
Perencana
artinya menentukan alternatif-alternatif yang terkait dengan kebutuhan program
sains.
2.
Guru
sebagai inisiator
Guru
harus dapat menjadi pencetus ide-ide kemajuan dalam pendidikan dan pengajaran.
3.
Guru
sebagai fasilitator
Guru
hendaknya menyediakan fasilitas yang memungkinkan kemudahan kegiatan belajar
anak didik, menciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan.
4.
Guru
sebagai elaborator
Guru
sebagai perangsang agar anak mengajukan pertanyaan.
5.
Guru
sebagai motivator
Mendukung,
mendorong dan memberi penguatan terhadap kegiatan anak.
6.
Guru
sebagai antisipator
Ketanggapan
guru dalam mengamati anak jika dalam kegiatan menggunakan bahan yang mudah
melukai anak, maka guru harus menyampaikan tata tertib penggunaan yang benar.
7.
Guru
sebagai model
Contoh
bagi anak dalam cara bersikap guru.
8.
Guru
sebagai teman bereksplorasi bersama anak
Anak
akan senang bila gurunya juga aktif dalam kegiatan bahkan akan jauh menerima kehadiran
guru
9.
Promotor
agar anak menjadi pembelajar sejati
Guru
harus selalu mendorong dan memberikan kesempatan untuk anak agar rajin dan giat
membaca.
Jadi
banyak strategi yang dilakuakn guru dalam kegiatan sains anak, yaitu kegiatan
yang tidak membosankan anak. Jadikan pembelajaran sains itu pelajaran yang
digemari anak melalui strategi guru dalam menyediakan alat dan pengolahan
kegiatan sehingga anak tertarik dengan kegiatan tersebut
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Dari makalah yang kami jabarkan, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran sains adalah pembelajaran yang selalu kita temui disetiap bidang pengembangan pembelajaran dalam pendidikan anak usia dini dan banyak strategi yang bias dilakuakan guru dalam kegiatan sains anak, yaitu kegiatan yang tidak membosankan anak. Jadikan pembelajaran sains itu pelajaran yang digemari anak melalui strategi guru dalam menyediakan alat dan pengolahan kegiatan sehingga anak tertarik dengan kegiatan tersebut
Dari makalah yang kami jabarkan, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran sains adalah pembelajaran yang selalu kita temui disetiap bidang pengembangan pembelajaran dalam pendidikan anak usia dini dan banyak strategi yang bias dilakuakan guru dalam kegiatan sains anak, yaitu kegiatan yang tidak membosankan anak. Jadikan pembelajaran sains itu pelajaran yang digemari anak melalui strategi guru dalam menyediakan alat dan pengolahan kegiatan sehingga anak tertarik dengan kegiatan tersebut
3.2 Saran
Kami dari tim penulis berharap agar makalah ini mampu dan bisa dijadikan contoh
untuk pengembangan pembelajaran sains untuk anak usia dini. Serta kami berharap
agar diberikan kritik dan sarannya mengenai makalah kami.
DAFTAR PUSTAKA
Ana,Karisma. 2013 Pembelajaran Sains Untuk Anak Usia Dini. http://karismaana94.blogspot.co.id/2013/03/pendidikan-sains-untuk-anak-usia- dini_8.html
Maratus,Riska.
2013 Pembelajaran Sains Anak Usia Dini.
http://ecemaratus.blogspot.co.id/2013/10/pembelajaran-sains-anak-usia-dini.html
Nugraha,
Ali. 2009. Pengembangan pembelajaran sains pada anak usia dini. Jakarta: JILSI
Foundation
Tidak ada komentar:
Posting Komentar